My Girl Maybe…

My Girl! Maybe…

 

Malam ini, di kamar sempit yang hanya cukup untuk menyimpan kasur dan komputer berukuran “main frame ku”, aku termenung memikirkan apa yang hendak aku tulis untuk master piece artikel ku bulan ini. Namun tak lama kemudian aku sumringah tersenyum layaknya kera mendapatkan makanan. Aku ingat seseorang, seseorang yang aku suka, seseorang yang ingin aku taklukan, seseorang yang memiliki setengah dari hatiku. Ah, aku mendapatkan ide. Aku akan menulis mengenai dirinya.

 

Dia adalah sosok gadis yang lembut terhadap siapapun, istilah anak muda zaman sekarang adalah easy going. Dia baik terhadap temannya yang sama-sama kaum hawa dan baik pula dengan teman kaum adam. Tak ayal setiap orang merindukannya. Namun di balik kelebihan itu dia adalah orang yang memiliki kepala sekeras batu bahkan lebih keras dari baja. Dia orang yang sulit untuk di“jinak”an, dia keras dengan pendiriannya. Unik. Tak kurang dari beberapa teman dari golongan adam mengutarakan perasaan pada dirinya dan hasilnya nihil. Namun karena penolakannya itu justru aku semakin mantap melangkahkan kaki untuk mendekatinya. Dia gadis yang menantang, gadis yang memiliki kehidupan yang sulit untuk di bayangkan. Kadang kami kaum adam yang selalu setia mengaguminya sulit untuk menebak apa isi kepalanya yang sekeras baja itu. Pagi hari dia tertawa, senyum, ramah, low profile, dan membuat suasana asyik, namun itu tak berlangsung lama siang hari sampai sore hari dia bagaikan homo sapien yang kerasukan jin dari negeri antah berantah. Itulah gadis kesayangan ku.

 

Usianya kini hampir menginjak 17 tahun, yang bagi sebagian manusia usia itu adalah usia yang sakral dimana ketika hari ulang tahun itu sama persis dengan hari ketika orang yang berulang tahun di lahirkan. Bodoh, padahal selain usia 17 tahun ketika kita 6 tahun, 28 tahun, dan beberapa tahun lainnya kita pasti akan menemukan tanggal lahir dimana sama persis dengan hari lahir kita. Itulah manusia selalu melebih-lebihkan hal yang sepele. Dia pernah berjanji kepada ibunya ketika ia lulus dari smp, dia tak akan pernah ber-pacaran hingga kelas 2 sma. Sekarang dia sudah kelas 2 dan janji terhadap ibunya-pun telah terlaksanakan dengan baik. Seharusnya dia sudah dapat menggandeng salah satu dari kaum adam yang memujanya, namun seperti tadi aku bilang dia unik. Dia lebih senang untuk menjalin persahabatan dengan semua orang tanpa memikirkan hubungan seperti pacaran. Meskipun aku tahu sekarang ibunya di rumah sedang kebingungan mengapa anak gadisnya belum juga memperkenalkan pasangannya, ibunya kini mulai menerka-nerka apakah anak gadisnya tidak laku? Apa memiliki kelainan sexsual? Dan tanggapan-tanggapan aneh yang dilontarkan sang ibu di benaknya. Seperti aku bilang dia unik, dia tidak terlalu memikirkan apa yang ibunya khawatirkan.

 

Beberapa kaum adam dengan maha-idiotnya mendekatinya, seolah dirinya adalah merpati yang mudah untuk ditaklukan. Mereka menggunakan segala cara untuk mendapatkan sang pujaannya itu. Mulai dari mencari referensi dari majalah anak muda, teori-teori dari pakar pujangga kelas teri, hingga homo sapien yang menggap dirinya dapat mengabulkan segala keinginan client-nya alias dukun. Namun dirinya unik, tak bergeming sedikitpun terhadap reaksi kaum adam yang mencoba mendekatinya. Dengan lembut namun menusuk jantung dia mengatakan dengan bahasa sunda campuran bahasa yang dia kuasai “Abi-mah enggak mau pacaran dulu, karena abi-mah kalau suka-teh enggak nanggung-nanggung 10 cowok. Abi-mah lebih suka temenan da, enggak mau ngurusin yang begituan”. Dalam, dalam sekali… tega nian dia memperlakukan kaum adam yang menjadi hambanya yang memperlakukannya bagaikan ratu cleopatra dengan menghunuskan kata-kata lembut nan syahdu namun mematikan.

 

Secara fisik, bukan berarti aku melihat seseorang dari segi fisik, dia sama halnya dengan gadis-gadis lain. Pada umumnya para kaum adam berfikir bahwa penampilan adalah nomor satu dan itu tidak dapat dipungkiri. Namun, percaya atau tidak bagi kaum hawa penilaian dari pada penampilan kaum adam hanya bertahan 10 detik pada pandangan pertama, dan detik ke 11 hingga seterusnya kaum hawa hanya melihat dari personalitas atau kepribadian sang adam. Oleh karena itu, para kaum adam perlu dan harus melakukan perbaikan dengan memperbaiki kepribadian. Sudah kita tidak akan membahas mengenai hal itu, nanti akan melenceng jauh dari yang sedang kita bicarakan. Seperti tadi kataku, dia secara fisik tak berbeda dengan gadis se-usia-nya. Seperti perempuan, aku menilai dirinya dari kepribadiannya, dia orang yang mudah bergaul dan aku sangat iri akan hal itu. Senyum, salam, ramah, dan hal lainnya itu yang dia perlihatkan kepada diriku. Membuat diriku tak ber-kutik untuk menolak menyukainya. Dia memiliki kekurangan pada bagian mata kanannya, namun aku tidak akan membicarakan mengenai hal itu. Dzalim. Matanya kadang terlihat sipit, kadang terluhat besar. Aneh, ya tapi itu tak menyurutkan ku untuk mendapatkannya. Hidungnya tidak terlalu mancung, agak sedikit besar, bibirnya tidak merah jambu, namun agak terlihat kehitaman meski dia bukan perokok. Jujur, selain pada mata kananya dibagian giginya dia  memiliki kekurangan. Senyumnya itu lho, tidak jauh dari senyuman se-ekor hiu putih yang sedang girang melihat anjing laut sebagai mangsanya. Kulitnya, hmmm… aku tak bisa menjelaskan secara rinci. Kadang dia terlihat putih kadang juga seperti sawo busuk. Entah mataku yang salah atau memang dia seperti itu, entahlah…

 

Sekarang mungkin sudah satu tahun aku menyukainya dan tak ada perkebangan sedikitpun. Kadang aku heran terhadap diriku sendiri, aku dapat menarik perempuan mana saja untuk dekat dengan ku, tak sedikit juga beberapa diantara teman perempuanku menyatakan perasaan sukanya padaku. Namun untuk yang satu ini, sulit, sungguh sulit. Tak mampu segala trik yang aku gunakan mempan pada dirinya, dan itu menyebalkan. Namun karena hal itu juga aku semakin menyukainya, sesuatu yang tidak mudah didapat berarti memiliki suatu harga yang sangat spesial dibanding sesuatu yang terbilang mudah di dapat. Bulan demi bulan aku lewati dengan tanpa sedikitpun melupakannya, kadang aku malu karena aku lebih sering mengingatnya dari pada mengingat siapa yang menciptakan diriku, maafkan aku ya Allah. Namun itu dahulu, sekarang aku lebih mampu untuk mengontrol fikiran ku, memang aku sadari aku pandai. Ketika aku kehilangan handphone GSM ku, dan ketika aku diberi pilihan oleh orang tuaku untuk memilih HP baru entah kenapa aku memilih CDMA sama dengan yang dia gunakan. Dan penyesalan memilih HP itu aku rasakan sekarang. Dahulu hampir setiap malam aku meneleponnya, meski hanya untuk mendengar cacian dan makian darinya karena aku menelpon pada saat homo sapiens lain istirahat.

 

Dahulu adalah dahulu yang sedang terjadi adalah sesuatu yang sedang aku rasakan dan yang akan terjadi adalah hal yang akan dan pasti menimpaku. Sekarang disini aku merasa hubungan kami semakin jauh, ya semakin jauh. Entah aku yang membosankan, atau aku kehilangan rasa pada dirinya. Meski begitu aku tidak akan mendahului nasib dengan cara menyerah pada keadaan. Aku akan menjemput takdirku dan mengikutinya, never give up, never stop, and you guys give me applause. Maybe I love Her, yes… Maybe…

 

 

2 Responses to “My Girl Maybe…”

  1. gege Says:

    mmh.. mmh.. cicicit cuiiit… cikitiw,, ngemengin sapa siiiiii????

Leave a Reply