My First Love

Langit mulai muram, sore hari gelap bukan karena malam. Tetes demi tetes air mata langit dihempaskannya ke bumi. Tekad dalam hatiku, kubulatkan. Ku rampas motor dari kakakku, memohon izin kepada orang tua ku bahwa aku akan ke rumah temanku, ya teman ku, hanya teman seperti ku bilang. Bergegas aku pergi, berpacu dengan hujan yang semakin menggila. Ah… aku tak dapat menolak diriku sendiri.

Sudah satu tahun lebih aku tidak bertatap dengan dirinya. Rasa rindu yang kian hari makin menjadi, membuatku tak dapat mengatakan tidak kepadanya. “eh rumah km tuh dmn siy? Dah pindah ya? Gag ketemu tuh. lez” kukirim sms seperti itu, kemudian “enak aja, tetep kok cari aja masjid al-munajat. Q tunggu ya?” dia dengan manisnya membalas sms ku. Berkali-kali ku berjalan mengelilingi kampung itu, dan “ah! Akhirnya dadang juga” masjid al-munajat nan megah dihiasi dengan kaligrafi berlafadzkan Allah SWT di ujung atap yang tersusun berbentuk piramida bertumpuk tiga. Cahaya masjid yang terang, menerangi wilayahnya sekitar 25 meter dari masjid. Disana, ya disana dipinggir masjid kulihat bidadari yang tersenyum malu namun tetap menjaga image-nya sebagai mantan juara umum 6 kali berturut-turut ketika dia masih di SMA negeri di kota madya dekat Bandung Barat. Memegangi payung, menatap lurus diriku yang basah kuyup.

Diriku mendekat, begitu pula dirinya. Kami tak bersalaman karena tahu aturan main dari agama yang kami anut. “Hai… dah lama enggak ketemu” sapa-ku membuka pembicaraan. “iya gitu?” balasnya “ya, bahkan dah setahun lebih beberapa bulan”. Terdiam seperti orang patung, di depan rumahnya yang tepat di samping masjid yang berdiri kokoh itu. “Masuk dulu atuh?” suara indah itu memecah kesunyian. “ah enggak, di luar aja deh, gak bakalan lama-lama kok”, “oh, ya udah”.

Duduk tepat di depan tempat wuldhu masjid, di depan rumahnya. Berdua tak seorangpun mengganggu, ah… lagi-lagi ini sungguh indah. Setelah setahun lebih tidak bertatap, kini aku melihatnya disampingku. Wajah yang cantik satu tahun lalu, kini menjadi lebih cantik. Tubuh yang elok laksna gitar spanyol, dengan mata sipit, uh… benar-benar mampu mengendalikan diriku. Tiada kuasa atas diriku jika sesuatu berhubungan dengan dirinya. Permintaan-nya tak dapat ku tolak, mungkin jika ia menyuruhku mengkhatamkan hidupku, aku menurutinya.

Perasaan yang tumbuh ketika aku duduk dikelas 2 SMP, sekelas dengan dirinya. Meski kami disatukan ketika kelas 2 saja, sebenarnya aku sudah memiliki perasaan ketika dia duduk dikelas 1 SMP. Rambut terurai, dengan cara berjalan yang aneh membuatku penasaran akan dirinya. Ketika takdir mempertemukan kami dikelas 2, ah, sungguh mimpi yang menjadi kenyataan. Tepat disamping tempatku duduk menuntut ilmu, bidadari itu duduk manis, manis sekali. Wali kelasku masuk dengan cepat merasa dirinya telat, beliau duduk dan mulai mengabsen kami satu per satu. Dipanggillah namaku, dengan bangga aku mengangkat tangan mulai merasa menjadi orang yang pandai di kelas berhubung ketika kelas satu dahulu aku menjadi juara 1 di kelas dan juara umum ke 2 se-SMP. Kuperhatikan baik-baik, sekali-kali menatap dirinya. Lalu terdengar lolongan wali kelasku “R*ni S*****i” ah pada detik itu pula aku cengengesan laksana mendapatan durian jatuh bahkan pohonnya pun ikut rubuh.

Kami terduduk hanya berdua di atas kursi depan rumahnya. Kadang kulihat orang berlarian di depan kami karena hujan yang menggila itu. Obrolan yang ngaler-ngidul menghangatkan suasana malam nan dingin yang tak tertanggungkan. Kadang fikiran jahatku timbul, berfikir mungkin memeluk dirinya akan menghangatkan kami berdua. Tapi, suara yang tak memiliki wujud membisikan kepadaku “kesempatan tak datang dua kali” karena terbiasa cara pandang yang tak ladzim aku bukannya berfikir untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, namun yang terfikira dalam benak-ku adalah “ya, kesempatan tak datang dua kali, dia mungkin berfikir aku akan memeluknya atau setidaknya memegang tangannya memanfaatkan kesempatan langka itu, tapi aku tak akan melakukan hal itu aku adalah pria yang menjunjung nilai agama meski kadang ngelantur, aku menghargai perempuan lain bagai aku menghargai ibuku.”

Hujan tetap deras seakan langit tak mengizinkan ku untuk meninggalkannya. Tubuh telah terlanjur basah, muka kusut, semua dandanan pamungkas yang telah ku siapkan sebelum bertemu dengannya telah sirna dihapus air mata langit. “Iren, aku pulang dulu ya?” kataku dengan sigap “kenapa?”, enggak apa-apa sih, Cuma gak enak aja dah malem masih di rumah yang bukan muhrim” jawabku berlagak sok-alim. “oh, ya udah. Hati-hati ya ujan-nya gede”. Tubuhku terasa berat meninggalkannya malam itu, namun kata telah terucap sebagai lelaki tulen aku tak mau menarik kata-kataku sendiri karena telah difikir secara matang. Kududukan tubuhku yang mulai beranjak ideal ke jok motor kakak-ku yang mungkin ketika pulang kerumah nanti akan murka kepadaku. Kulihat dirinya yang masih mengamatiku di depan pintu rumah. Berangkatlah aku dengan wajah tersenyum puas.

Jalanan licin, tak menghalangiku untuk pulang ke rumah. Senang hatiku, seakan malam gelap, di sajikan dengan hujan yang deras, menjadi malam bulan purnama yang cerah. Indah brad (di baca: brother), indah sekali. Meski aku tahu, dengah haqul yakin seberat apapun pengorbanan ku kepadanya dia tak akan menjadikanku seseorang yang penting di hatinya hanya sebagai teman biasa. Meski dirinya dalam hatiku tetap menduduki jabatan cinta pertama yang tak kunjung padam.

Benarlah yang telah aku fikirkan, sesampai dirumah kakak-ku dengan memegang golok bersiap menyambutku di depan rumah (halah, berlebihan!) diceramahi-lah aku oleh kakak-ku, bukan karena aku mengambil motor begitu saja atau karena aku tidak memiliki SIM tapi karena aku lupa tidak membawa STNK milik kakak-ku. Ibuku menyuruhku bergegas mengganti baju dan makan dengan salah satu menu pilihan yang paling ku sukai, tak akan ku sebutkan apa menu itu. Mulai detik itu, setiap kegiatan yang ku lakukan terlihat dan terasa indah, hanya karena cinta yang tak mungkin di balas olehnya, takan, takan pernah. Meski kini hatiku berada di penjara lain, tak munafik jika aku mengatakan aku masih menyukainya meski kini aku rasakan mulai memudar karena aku menemukan bidadari lain yang pernah ku ceritakan kepadamu brad. Baca disini

Leave a Reply